Minggu, 20 April 2014

Yay~!!
Terima kasih telah berkunjung~!
Hari ini secara resmi Ertha Stories mulai dipublikasikan~!!
21-04-2014
(n0n)/
Ini episode pertama, silakan dibaca dan semoga menikmati~
n u n /

*Side story akan di update setiap minggunya*

===

Episode 1
A story from Ertha
White Celestial Introduction
by Yanaka White



Establishing connection . . .
Connected . . .
Current Location:
Ritville Area
Dimension : ERTHA . . .
Welcome to Ertha…
. . .
. . .
. . .

     “Semuanya siap?”, tanya Hime di belakang tripod kamera.

            “Bentar bentar, coba cek lagi.”, saran Roku kemudian menghitung jumlah mereka yang berbaris di depan kamera. “Sichi, Mirra, Erita, Yanaka, Hime di sana….. Kok kurang?”

            “Ha? Siapa yang kurang?”, tanya Hime.

            “’Kan kita mestinya ada enam orang tapi kok ini cuma lima?”

            Melemparkan tatapan seperti mengatakan ‘yang serius dong’ pada Roku. “Eh?”, kata Roku kaku.

            “Oi.”, panggil Hime. “Itung juga dirimu.”

            Roku membalas Hime dengan pandangan bingung. “A..”, katanya seperti menyadari sesuatu.

            Hime menyetel kameranya. “10 detik, ya?”, tanyanya. Tak ada yang menjawab. Semua sudah siap bergaya di depan kamera. Hime segera menyusul ke barisan dan bergaya.

            Sekitar sepuluh detik kemudian, kamera mengambil gambar secara otomatis. Keenam anak itu segera menghampiri, penasaran dengan hasil yang terambil.

            Tampak di gambar yang tampil di layar kecil kamera digital. Sebuah rumah yang cukup besar, dengan tampilan minimalis bercat putih sebagai latar belakang. Tampak pula sebaris pasukan ksatria lengkap dengan zirah mereka berdiri di depan rumah itu. Beberapa ada yang bergaya untuk foto. Di halaman depan rumah, yang lebih dekat dengan kamera, berjejer enam anak-anak dengan tampang imut nan manis.

Dari ujung kiri, seorang anak berambut hitam panjang yang menyentuh bahu. Wajahnya cukup manis, namun tampilan terkesan acak dan boyish. Dengan syal merah, baju kaos putih dengan lengan extra yang panjang berwarna hitam. Celananya jeans panjang dan sepatu sport merah. Namanya Erita. Seorang Ninja. Laki-laki yang sedikit mesum dan suka iseng dengan orang lain, namun tetap peduli pada teman-temannya.

Di sampingnya ada seorang wanita. Dari tinggi dan posturnya, sekitar umur 20-an. Wajahnya jelita dan tenang. Sosok keibuan. Rambutnya oranye panjang. Sebagian terikat di belakang, sebagian terurai lembut hingga setengah punggungnya. Mengenakan baju jeans cyan muda tak berlengan, membuatnya tampak seksi, sedikit menonjolkan dadanya. Dengan rok merah menyentuh lutut. Kaus kaki putih dan sepatu simple berwarna coklat. Gayanya anggun dengan senyum tulus. Namanya Roku, kakak Sichi yang berusaha menjaga anak-anak itu dan memberikan perhatian bagai seorang ibu. Namun memiliki masa lalu yang kelam. Masa lalu yang tak seberapa lama dari foto itu diambil. Masa lalu dengan rumah area Ritville nomor 96 yang kini sudah tiada dan tanahnya dijadikan jalan masuk ke rumah baru itu.

Adapun seorang anak kecil di samping Roku. Umurnya sekitar 17 tahun. Rambut lembut nan panjangnya sedikit berantakan, dikesampingkan agar tak menutupi wajah putihnya yang memancarkan senyum polos. Mengenakan sweater putih berlengan panjang, topi pantai besar yang bayangannya melindungi wajah manisnya. Celananya jeans ketat dengan sepatu sport hitam. Dia Sichi, adik Roku. Kulit putihnya seperti bukan kulit manusia. Putih, namun tidak pucat. Putihnya terlihat hidup, namun tidak seperti manusia. Walaupun tampak seperti gadis, dia adalah adik laki-laki Roku yang juga berbagi pengalaman buruk penuh darah dengan Roku. Namun akibat pengalaman buruk itu, kini dia bisa berlari dan melihat dengan baik.

Sichi tampak ceria dengan tangannya yang membentuk posisi jari PEACE yang ditunjukkan pada kamera. Tangan kirinya menggandeng tangan teman baiknya di sebelah. Seorang anak tingginya sama dengan Sichi, walaupun umurnya sudah 18 tahun. Wajahnya manis, berkulit putih cerah. Rambutnya emas panjang berkilauan. Bukan hanya pirang, tapi seperti emas. Mengenakan kaos oblong dilapis jaket hoodie putih yang dibuka resleting depannya. Celananya jeans biru simpel dan sepatu sport hitam. Dia berusaha tampil boyish, tapi semua orang hanya akan melihatnya sebagai gadis tomboy, bukan seperti laki-laki yang dia harapkan. Namanya Mirra. Anak laki-laki berambut emas dengan misteri. Tak ada yang tega memotong rambutnya itu menjadi model pendek. Dia seorang cleric, handal melawan monster-monster demon. Juga memiliki pengalaman yang suram. Kehilangan dan penyesalan sempat merubahnya menjadi sosok yang dingin sampai dia bertemu Sichi. Sichi yang mirip dengan seseorang yang dulu juga selalu berada di sisinya.

Berdiri di samping Mirra, anak berkulit putih bersih. Matanya merah, rambutnya silver panjang. Mengenakan kemeja putih yang dilapis dengan sweater biru. Dihiasi syal motif checkered seperti kilt skotlandia. Begitu pula dengan rok sebatas lututnya. Yang didampingi dengan kneesock putih dan sepatu sekolah jepang warna coklat. Di kepalanya tertempel semacam topi dengan motif yang sama dengan syalnya. Tapi itu bukan topi, lebih semacam jepit rambut di belakang kepalanya. Ada semacam antena rambut panjang di kepalanya. Namanya Yanaka White. Pemimpin White Celestial Army yang terdiri dari keenam anak itu. Walau tubuhnya kecil, tak ada yang tau usia tepatnya. Tak ada yang tau masa lalunya. Mirra, Roku, dan Sichi belum tau kemampuannya. Tapi tak ada yang peduli. Yanaka berhasil mengalihkan perhatian mereka dengan tingkah tingkah konyolnya yang bandel dan menggemaskan.

Si pemilik tanah dan rumah berdiri di sisi paling kanan di foto itu. Rambutnya pirang panjang. Lembut, namun sedikit liar. Mengenakan gaun sederhana berwarna kuning muda bak pemaisuri. Dia Hime, putri dari sebuah kerajaan di area Kinquinia. Jiwa petualangnya membuat imagenya sebagai tuan putri seperti hilang. Kinipun dia membangun rumah baru di Ritville karena ingin mencoba hidup di dekat pemukiman yang lebih sederhana. Namun jiwa itu dibekali dengan kemampuannya dalam bidang sains, meramu berbagai campuran zat yang ditemukan di Ertha, membuatnya menjadi seorang alchemist handal yang lihai menusukkan jarum-jarum suntik otomatisnya pada target dari jarak jauh. Teman baiknya, sebuah van khusus piknik yang dilengkapi tempat tidur dan kamar mandi.

Keributan terjadi. Sekumpulan anak yang tampak seperti gadis-gadis kecil yang mengomentari foto mereka sendiri mengeluarkan suara-suara manis seperti “kyaaa” atau “kawaii”. Kecuali Erita tentunya yang bersikap jantan dan tanpa sengaja mengatakan “Dada kak Roku tampak indah.”

Hime memang berencana membangun rumah itu di sana. Untuk mengingat kejadian malam itu, yang melibatkan perubahan hidup Roku dan Sichi. Dia juga melihat posisi yang bagus untuk menjadi markas persembunyian White Celestial Army. Dan tempat tenang untuk tinggal.

Di tengah semaraknya sukacita mereka setelah berhasilnya pembangunan rumah itu. Dari kejauhan. Dia sebuah taman hijau melingkar di perumahan Ritville itu. Tumbuh sebuah pohon besar.

Di bawah pohon itu. Dua sosok bayangan gelap memandang lurus ke kumpulan White Celestial yang menjorok dalam ke hutan di belakang gerbang masuk rumah itu.

Sosok yang satu bermata merah, seperti Yanaka. Rambutnya hitam panjang, dengan rambut antena membentuk petir di kepalanya. Karena tertutup bayangan, dia tampak benar-benar hitam seluruhnya. Hanya mata dan senyumannya yang tampak.

Sosok yang lain juga hitam. Tingginya lebih rendah dari sosok yang satunya. Matanya kuning, seperti mata kucing. Mengenakan topi bertelinga kucing dengan rambut hitam yang memanjang hingga ke bahunya. Dia membawa sebuah sabit hitam besar yang biasa dibawa malaikat kematian.

“Jadi, kau belum mau muncul?”, tanya sosok yang mirip kucing. Suara ceper, seperti kucing bicara.

Sosok yang lain tertawa kecil. “Belum.”, jawabnya dengan dengan suara gadis yang sedikit jantan. “Ini belum saatnya.”, sambungnya.

“Jadi kapan?”

“Kelak, ketika mereka sudah lengkap. Aku akan terus mengembangkan tentara itu dari belakang. Dan aku akan muncul ketika mereka sudah cukup kuat.”

“Nyaha.. terserahlah.”

“Kau juga kerjakan baik-baik pekerjaanmu, mata-mata.”, lanjutnya memandang tajam pada kumpulan itu.

“Nyahaha….. kerjakan dengan baik~!”


Beberapa saat kemudian, sang kucing mengeluarkan semacam linkaran sihir hitam di bawahnya dan tertelan hilang. Sementara sosok yang lain, tanpa sihir apapun, menghilang masuk ke dalam tanah. Tepat sebelum rakyat sekitar menyadari keberadaan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar